Seminar Blockchain: Form Concept to Opportunities

November 2018, dunia dihebohkan oleh harga Bitcoin yang mencapai titik US$4,100, setelah sebelumnya menyentuh US$20,000 pada bulan Desember 2017. Saat nilai cryptocurrency jatuh, ternyata teknologi blockchain berkembang dengan sangat pesat.

Lalu apa hubungan teknologi blockchain dengan bitcoin? Mengapa nasib blockchain berbeda dengan nasib bitcoin dan cryptocurrency lainnya?

Seminar Blockchain: Form Concept to Opportunities pada yang hari Kamis, 29 November 2018 mengupas isu tersebut. Seminar yang diadakan di Fakultas Ilmu Terapan ini merupakan acara perdana yang diselenggarakan oleh Telkom University Blockchain Research Community, yang bertujuan meluruskan persepsi masyarakat akademis tentang teknologi blockchain dan produk cryptocurrency. “Akademisi harus dibuka persepsinya sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada, terutama bagi teknologi baru, seperti blockchain”, tegas Dr. Teguh Widodo, Dekan Fakultas Ilmu Terapan. Hal ini ditegaskan kembali dalam pembukaan acara seminar yang disampaikan oleh Bapak Tri Brotoharsono selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Terapan.

Acara ini terbagi dalam dua sesi, menghadirkan Executive Director Indonesia Blockchain Society, Bapak Mochamad James Falahuddin sebagai pembicara pada sesi pertama. Pada sesi ini, dijabarkan sejarah dan implementasi blockchain pertama kali di dunia, yaitu pada bitcoin, yang berusaha menghilangkan perantara dalam transaksi keuangan. “Hal ini yang menyebabkan banyaknya salah persepsi antara blockchain sebagai teknologi dan bitcoin sebagai produk dari blockchain” ujarnya. Pada sesi ini juga dijelaskan struktur, cara kerja blockchain secara umum dan sifat-sifat blockchain, diantaranya peer-to-peer, consensus, cryptographically secure, dan immutable, yang merupakan keunggulan teknologi ini. Diakhir materi dijelaskan peluang riset blockchain di Indonesia bagi dosen dan mahasiswa Telkom University.

Sesi kedua dibawakan oleh Bapak Farid Fadhil Habibi, yang merupakan CEO dari PT. Svara Inovasi Indonesia. Dalam sesi ini diperkenalkan berbagai platform blockchain yang ada, dengan karakteristiknya masing-masing. Salah satu implementasi yang dipaparkan adalah penggunaan blockchain dalam bidang industri musik digital. Dengan blockchain, musisi dapat langsung memasarkan karyanya tanpa melalui banyak perantara, seperti yang terjadi selama ini. Selain menghemat biaya, teknologi ini juga memungkinkan manajemen copyright, dan pembayaran royalti secara otomatis melalui smart contract. Dengan penggunaan blockchain, piracy yang selama ini marak dalam industri digital, terutama musik, diharapkan dapat ditekan sekecil mungkin.

Sebagai inisiasi, pada kesempatan ini juga dideklarasikan Telkom University Blockchain Research Community, komunitas peneliti dan pemerhati blockchain yang terdiri dari lintas bidang ilmu yang ada di Universitas Telkom, khususnya di Fakultas Ilmu Terapan. Komunitas ini terdiri dari dosen, staff, dan mahasiswa yang mendalami blockchain, baik dalam penelitian maupun proyek akhir. Perkenalan singkat ini dibawakan oleh Bapak Anak Agung Gde Agung, selaku ketua panitia acara, juga sebagai Ketua Kelompok Keahlian Sistem Informasi Akuntansi. Selain memperkenalkan komunitas, Bapak Agung kembali mengajak seluruh civitas untuk ikut ambil bagian dalam mengembangkan teknologi ini, agar tidak hanya menjadi konsumen ketika negara-negara lain mulai memasarkan blockchain.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang membahas lebih jauh peluang riset teknologi blockchain bagi dosen dan mahasiswa, serta insight perkembangan teknologi blockchain di industri. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan penandatanganan MOU antara Indonesia Blockchain Society dan Universitas Telkom yang membahas kerjasama di bidang penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan di bidang blockchain.

LINK MATERI

Materi presentasi dari nara sumber dapat diunduh pada tautan berikut https://goo.gl/y238Pp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *